• Home
  • About
  • Contact
    • Email
    • Instagram
  • Category
    • Timelapse
    • Thoughts
    • Renjana
  • Kebijakan Privasi
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

LUMINOUS

when it's all dark, the only thing we need is a light

 



Hal apa yang lebih menyenangkan daripada menyantap sarapan enak di pagi hari? Hal itu adalah menemanimu di dapur sembari mengalungkan lenganku di tubuhmu yang kecil dan melihat tanganmu begitu terampil dalam mengiris, menggoreng, dan menabur bumbu di masakan yang akan jadi sarapanku.

Mengapa kau begitu mahir? tanyaku.

Mendengar pertanyaan itu, kamu menghentikan sejenak aktivitas memasakmu dan menatapku jahil. “Masih tanya kenapa?"

Aku mengangguk seperti anak anjing yang polos dan tidak tahu apa-apa.  Kamu berdecak. "Tentu saja karena suamiku yang bawel ini, akan mengomel-ngomel jika sarapannya tidak enak!”

Aku cekikikan. Ah tidak ah! ucapku menyangkal.

Bersamaan dengan kamu yang melanjutkan aktivitas memasakmu, aku diam-diam meletakan daguku di pundakmu. Mendekatkan mulutku ke telingamu. Makasih ya Sayang, makananmu selalu enak!

Mendengar hal itu, kamu menjadi salah tingkah. “Awas ah sana!” usirmu.

***

Hal apa yang lebih nyaman daripada menonton tv di malam hari yang hujan? Hal itu adalah berbaring di atas pangkuanmu sambil merasakan tanganmu yang menelusuri sela-sela rambutku, mengelus alis dan hidungku hingga aku terlelap. Lalu jika kusadari usapan itu berhenti, aku menatap ke arahmu, memastikan apakah kamu sudah tidur atau sedang terhanyut dalam tontonanmu.

Jika kamu tertidur, tentu, sudah jadi tugasku untuk menggendongmu ke tempat tidur. Tapi jika tidak, aku akan jahil. Merengek minta Ayo elus lagi!

Kamu akan menatapku sebal setiap kali mendengar rengekanku. Tapi tetap saja. Kamu akan tetap menurut. Kamu akan bilang “Iya, iyaaa. Ayo cepat tidur lagi.” Dan aku akan kembali memejamkan mata, mengulangi hal yang sama. 

***

Percayalah bahwa bagiku, hal apapun akan menjadi lebih baik selama itu dilakukan dengan kamu. Tanpa kecuali. Meskipun kita baru bisa berkhayal dan merencanakan. Tapi kamu selalu bilang tidak apa-apa. Semua ada waktunya. Dan kita, masih bisa menikmati durasi yang kita punya untuk berkhayal sepuasnya tentang suatu hari di masa yang akan datang.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kepada Kamu, seseorang yang telah kujatuhi cinta dengan penuh, percayalah bahwa kamu adalah satu-satunya sosok yang aku mau. Kamu adalah harapan yang menjadi tumpuan dari semua perjuangan yang aku lakukan. Kamu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tak akan aku lepas. Tak akan kubiarkan kau menjelma kenangan lalu menghilang dimakan waktu. Meski pada akhirnya kau dan aku mati, aku akan tetap membuatmu abadi. Biar saja jika waktu ingin fana, Kau akan tetap denganku melewati batas yang lebih lama dari kata selamanya.

Percayalah bahwa rasaku kepadamu bukanlah perasaan biasa yang akan hilang karena bosan. Pun bukanlah perasaan yang hanya muncul karena penasaran. Ada nyaman yang selalu hadir setiap kali Kau merapikan rambutku. Ada bahagia yang kurasakan setiap kali kupandangi matamu lalu kutemukan semua hal yang kumau di dalamnya. Ada hangat yang kutemukan dari pelukmu. Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan setiap kali mata kita bertemu pada satu titik yang sama. Dan aku tidaklah berpura-pura saat kukatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Kamulah satu-satunya orang yang aku mau.

Kini baru kusadari bahwa sebelumnya aku tak pernah segigih ini dalam mencintai seseorang. Manusia datang dan pergi, itu sudah menjadi hukum alam tapi perihal kamu, berjanjilah bahwa kamu tidak akan pergi meski seberat apapun rintangannya.

Satu-satunya manusia yang berhak atas damai di antara lengkungan lenganku, atas nyaman dari usapan jari-jemariku yang membelai helai rambut di kepala, atas rebah yang tentram di dada atau kecup manis di lengangnya pagi hari, pada hujan yang deras di malam yang sunyi, serta pada keheningan-keheningan yang magis; satu-satunya manusia yang berhak atas semua hal itu adalah kamu.

Jadi, kumohon tetaplah bersamaku. Tumbuh dan membaru hingga kita menjelma dua manusia yang selalu berubah menjadi lebih baik. Ajarkan aku dewasa dengan cara mencintaimu sepenuhnya. Temani aku hingga kita tiba pada tujuan-tujuan yang telah kita rencakan. Hingga bertambah pencapaian atas impian-impian kita. Jadilah rumah untuk aku pulang. Jadilah tempat berteduh untuk setiap peluh yang jatuh saat kita saling memperjuangkan. Jadilah satu-satunya. Jadilah segalanya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

Malam, pukul dua puluh dua, adalah jadwal kita untuk berbincang tentang banyak hal yang manis dan menyenangkan berdua. Tidakkah kamu merasa bahwa waktu menjadi begitu cepat tiap kali kita membuka obrolan virtual setiap malam? Seolah-olah dering telfonmu baru kudengar satu menit yang lalu, tapi ternyata sudah tiga jam kita berbicara ini dan itu.

Namun malam ini berbeda. Waktu berjalan sangat lambat padahal kepala kita sudah lelah berlarian mencari jalan keluar tercepat. Telfon sudah kita matikan padahal duga-duga yang kita simpan sendiri masih menggantung di ambang kata yang tak berhasil kita suarakan. Seandainya waktu hanya berlalu dan tidak memberikan apapun, mungkin malam kita akan baik-baik saja.

Seandainya waktu tidak memberikan apapun, mungkin empat puluh empat hari kita kemarin, hanya akan terasa seperti durasi kosong yang dihabiskan lalu terlupakan dengan mudah. Tapi nyatanya tidak. Nyatanya waktu selalu memberi apapun tanpa diminta. Dan brengseknya, waktu juga bisa merenggutnya dengan paksa.

Ada banyak hal yang sekarang sudah menjelma kamu. Seperti hujan dan petir, mantel biru yang tak bersaku, perdebatan tentang minumanku yang manis tapi pahit di lidahmu. Bahkan kepalaku, yang meski tidak kuminta, pasti akan selalu menoleh ke arah jalan yang menuju ke rumahmu. Kebiasaan-kebiasaan sebelum tidur, sebelum memulai hari, dan pertanyaan tentang ‘besok agenda kamu apa?’ sudah mendarah di tubuhku. Rasa-rasanya, waktu telah memberiku sangat banyak.

Kedatanganmu, pelukmu, perasaanmu yang membalas rasaku dengan setimpal. Lantas apakah semuanya akan hilang begitu saja? Apa waktu akan merenggutnya dengan paksa?

Memangnya aku punya salah apa, Semesta? Lahirku, saja kamu yang atur kan? Kehilanganku juga kamu yang atur. Bisa apa aku?

Bercandamu sudah keterlaluan sekarang!


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Kita duduk pada satu sudut ruangan cafe yang lumayan sepi. Kepalaku masih mengingat dengan sangat jelas garis-garis membentuk kepiting yang terpajang di banyak sudut cafe ini. Cafe yang tidak asing bagiku tapi menjadi kali pertama bagimu. Sorot lampu yang redup di atas kepala kita seolah berusaha menyembunyikan wajahmu dari pandanganku. Tapi sayangnya, pesonamu jauh lebih cerah daripada sorot lampu itu.

Di tempat ini, kita sudah cukup lama duduk berhadap-hadapan, saling memandang, dan saling memalingkan mata. Dan tanpa kita sadari, ada perasaan tak asing yang mengudara dan membentuk atmosfer hangat untuk kita. Padahal di luar gerimis dan ada dua AC yang menyala, tapi..., hatiku terasa hangat.

Waktu terasa begitu lambat karena kita menikmati setiap detiknya. Kita tidak sibuk dengan ponsel masing-masing ataupun tacos dan cheese paradise yang kita pesan. Kita justru sibuk membangun perbincangan yang bermakna tentang kerentanan, kekhawatiran, dan perasaan. Semakin dalam perbincangan kita, semakin kita menyadari bahwa kamu dan aku telah terlalu sibuk berpetualang memandang belahan dunia masing-masing.

Mata kita basah. Kepala kita berpacu pada kalimat-kalimat yang rumit. Namun sayangnya, bibir kita kelu, tenggorokan kita tercekat. Tak ada banyak hal yang bisa kita katakan, tapi ada beberapa hal yang kita pahami bersama-sama.

Bahwa keputusan yang lalu adalah salah. Aku tak seharusnya berhenti berjuang dan kau tak seharusnya berhenti mempertahankan. Bahwa perasaan kita tak pernah berubah. Kamu merindukanku, aku merindukanmu. Kita selalu merasa terikat. Seolah-olah selama petualangan kita memandang belahan bumi yang lain, kita membawa kompas yang rusak. Yang meski seberapapun jauh kita memutari bumi, kompas itu selalu menuntun kita pada satu titik temu yang sama.

Tak ada hal yang bisa kujanjikan padamu selain mengusahakan semampuku agar aku bisa (kembali) bersamamu. Bukan untuk sementara. Melainkan untuk waktu yang jauh lebih lama daripada selamanya. Aku tak ingin menggantungkan kejelasan hubungan kita dan membebanimu dengan banyak pikiran. Tapi, “Apakah ini semua akan berhasil?”

Aku pun tidak tahu. Kamu juga ragu. Tapi kita adalah benar. Dan (hanya) kita yang sama-sama memahami bahwa dalam keadaan yang salah, hal yang benar sekalipun bisa terasa sangat meragukan.

Meski kau dan aku saling mau. Meski telah kita temukan satu titik temu. Belum tentu semesta mau memberi restu. Untuk itu, mari lakukan semampu kita. Berusaha dengan sungguh-sungguh. Dan sisanya, biarkan semesta yang bekerja. Ya?

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Satu malam penuh, aku ditemani oleh suara-suara nyaring yang bersahut-sahutan di luar sana. Orang berganti-gantian melantunkan takbir yang katanya, menyiratkan kebahagiaan menyambut datangnya perayaan fitri. Tapi jika direnungkan lagi, benar memang beberapa orang merasa senang. Tapi tidak semua. Beberapa lainnya merasa sedih. Lalu aku hanyut dalam pikiran-pikiran itu. Benarkah kita harus mengglorifikasi perayaan ini sementara ada sebagian orang lain yang sedang menangis?

Entah.

Menangis karena tidak bisa pulang, tidak bisa bertemu dengan saudaranya yang berbeda kota atau pulau. Atau menangis karena takut, tidak bisa menjamu orang-orang yang datang besok pagi. Atau menangis karena hal-hal yang mereka pendam sendiri, di bawah ramainya orang yang bergembira.

Sedih, di bawah kesenangan orang lain.

Apakah benar, mengganggu jam tidur orang dengan suara-suara yang asing bagi mereka, adalah hal yang dianjurkan?

Satu bulan penuh, aku ditempa untuk rendah hati dan menghargai orang lain. Menahan lapar dan haus, untuk merasakan bagaimana beberapa orang di luar sana kesulitan untuk makan dan minum. Satu bulan penuh dilatih untuk menghormati orang lain dan tidak berbuat buruk kepada mereka. Tapi rasanya semua hilang hanya dalam satu malam. Besok pagi, semua orang harus menjadi ‘pantas’ di kacamata orang lain.

Jujur, semua terasa hambar untukku. Perayaan tahun ini terlalu berat di kepala. Jauh berbeda dibandingkan dengan perayaan-perayaan sebelumnya, sebelum usiaku 20 tahun. Ketika kepalaku tidak terlalu liar berpikiran yang aneh-aneh. Ketika aku (yang dulu) merasa pintar dan tidak menanyakan banyak hal. Berbeda dengan sekarang. Sekarang saja aku bertanya-tanya.,

Ketika aku tidak merasa tidak begitu senang dengan perayaan ini, apakah aku lantas dikategorikan sebagai orang yang tidak bersyukur?

Entah.

*

Hari berganti. Warna-warni kulihat orang berjalan menyusuri gang yang biasanya sepi. Tentu itu hal baik. Bertamu dan mengunjungi saudara (read: tetangga) satu komplek tentu hal yang baik. Sayangnya hanya sekali setahun. Hanya beberapa menit, lalu pamit. Dan 365 hari ke depan, gang akan sepi lagi. Ingin heran, tapi itu manusia. Sama sepertiku, manusia.

Mari kita lihat hal ini sebagaimana adanya. Bukan ironi. Menganggap perayaan ini sebagai momentum untuk kembali menjadi manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial. Yang akan berinteraksi atau tidak berinteraksi.

Aku lihat beberapa orang menggunakan baju yang sama. Seragam. Batik warna ungu atau baju polos warna abu-abu. Terlihat kompak di tengah ramainya orang yang mengenakan baju dengan warna dan motif yang berbeda-beda. Tidak seragam. Sayangnya aku tidak bisa melihat isi hati dan kepala mereka. Dan jikalaupun ada hati yang merasa iri di sana, aku harap dadanya bisa lapang menerima semua perbedaan yang ia rasakan.

*

Kemudian tiba waktunya untuk saling minta maaf.

Lagi-lagi hal yang sejak dulu kuanggap biasa, kini menjadi hal yang begitu aneh dan abstrak. Aku terus berpikir tentang bagaimana mungkin, kesalahan yang terkumpul selama 365 hari (atau bahkan lebih lama dari itu) bisa hilang hanya dalam satu kalimat maaf?

Mengapa sekarang maaf jadi terdengar sangat biasa?

Mengapa permintaan maaf saat ini terdengar seperti tidak didasari atas rasa salah ataupun keinginan untuk memperbaiki kesalahan di hari berikutnya?

Apakah mereka, benar-benar tahu perbuatan apa yang salah dari mereka? Apakah benar, mereka merasa salah karenanya? Dan kemudian, aku dipaksa untuk memafkan, padahal memaafkan adalah sebuah proses panjang dari penerimaan yang didasari oleh pemahaman.

Untuk hal ini aku tidak bisa menanggapinya sendiri. Bagaimana jika aku adalah kalian?

Benarkah setelah hari ini, kalian tidak akan lagi mengingat kesalahan yang pernah diperbuat kepada kalian?

Benarkan setelah hari ini, tidak ada lagi marah yang bersemayam di hati kalian?

Benarkah setelah hari ini, rasa sakit dan terkhianati yang kalian alami tidak akan terasa lagi?

Benarkah setelah hari ini, hubungan kalian dengan orang yang kalian benci akan membaik?

Jangan bohong.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Pukul lima sore, aku duduk termenung menjadi saksi langit yang kian menjingga. Anak-anak kecil terlihat berlarian pergi ke mushola, mau mahgrib. Mungkin tak hanya aku, yang merasa bahwa disaat-saat demikian, suasana menjadi berubah. Tidak seperti jam-jam lainnya yang ‘biasa saja’. Suasana di sini berubah menjadi magis. Dan tiba-tiba aku terpikirkan tentang alasan-alasan yang.., mungkin, bisa membuatku tak bisa kembali denganmu.

Kenangan demi kenangan mencuat, mengembalikan ingatan tentang betapa bahagianya kita,  dulu. Lagi-lagi aku merindukanmu. Beruntung kita sempat bertemu beberapa waktu yang lalu. Bertukar sapa, bertukar cerita, dan banyak hal. Tak ada kesan yang lebih baik dibandingkan hadirmu. Sebab tak peduli seberapa banyak wajah yang kutemui, akan tetap terkalahkan oleh wajah yang selama ini kutunggu: wajahmu.

Namun, seberapapun banyaknya rindu yang aku punya, tak akan ada nilainya jika dihadapkan dengan kebodohan. Aku telah bodoh karena membuatmu patah dan berantakan. Tapi kebodohanku akan menjadi alasan kuat yang kedua.

Sekotak maaf masih kusimpan dengan baik. Ingin kuberikan sebenarnya,  jika suatu saat nanti ada kesempatan. Tapi beberapa hal menahanku untuk memberikannya kepadamu. Hal-hal yang ada di kepala, tentu saja. Kerap kali kupikir, maaf tidak berguna untuk kesalahan yang tidak biasa. Sedangkan aku sudah salah karena tidak mempertahankanmu. Aku salah karena menyerah. Aku salah, karena berhenti. Aku salah karena masih menahanmu dengan hal-hal yang tak kasat mata. Kesalahan-kesalahan yang tidak biasa.

Seberapa banyak pun kata maaf, tak akan ada nilainya jika dihadapkan dengan kekecewaan yang teramat sangat, kan? Dan kekecewaanmu, akan menjadi alasan yang paling kuat, yang mungkin membuatku tak bisa kembali.

Dan sekarang tanganku tak lagi bisa menggenggam tanganmu. Mataku tak lagi bisa menatap matamu tanpa membuat suasana menjadi canggung. Barangkali aku sudah hilang. Sudah tidak diinginkan. Dan itu menjadi alasan-alasan yang selanjutnya.

Terakhir, aku tak bisa lagi menetap di rumahku yang lama: hatimu, dengan alasan-alasan yang bisa jadi, hanya kamu yang tahu.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Kita selesaikan saja, ya?

Aku sendiri, kamu sendiri, tidak ada lagi kita. Bisakah?

Mari kita tamatkan apa yang sejujurnya hampir kita mulai. Mari kita letakkan pertanyaan-pertanyaan tanpa menduga-duga apa jawabannya. Mari kita tinggalkan semua yang ada pada kepala dan dada kita, tanpa perayaan, tanpa pertemuan, tanpa air mata yang mengalir dengan tidak sopan. Kita mulai cerita yang baru.

Bisakah?

Meninggalkan cerita lama di awal pertemuan kita. Cerita saat mata kita bertemu pada satu titik yang sama. Cerita saat kita masih mengenakan pakaian yang sama, hitam, putih. Cerita tentang onion ring dan nasi goreng seafood di bahu jalan. Hanya menatap ke depan. Tidak menoleh. Tidak mengingat-ingat. Tidak menangis karena rindu.

Bisakah?

Kita tidak saling membenci, bukan? Tidak akan ada yang merasa tertahan ataupun menahan. Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang terburu-buru.

Kita sudah terbiasa, kan? Tidak marah. Tidak mencari di mana atau siapa yang salah. Tidak berselisih.

Kita selesaikan saja, ya. Tidak perlu kembali jika hanya untuk mengucap sampai jumpa atau kalimat “aku pergi ya” untuk kedua kalinya.


Kita selesaikan saja. Ya?

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Beberapa hari terakhir, saya disibukkan dengan ujian. OSCA, OSCE, Ujian Tulis, Ujian Hidup. Rasa-rasanya Ujian Hidup sudah ada sejak lama, tapi tidak apa-apa. Saya tuliskan juga. Hampir setiap hari dihabiskan untuk menghafal prosedur tindakan, penghitungan, pengkajian. Tapi pada akhirnya tidak memuaskan sama sekali. Saya tidak mempelajari hal-hal minor yang seharusnya dianggap penting. Saya melakukan prosedur dengan urutan yang benar namun ada hal yang terlewat hanya karena ingin bergerak cepat.

Beberapa notifikasi dari tim redaksi jurnal yang menghubungi saya juga turut membuat Desember ini menjadi gaduh. Kabar baik dan kabar buruk datang bersamaan. Kabar baiknya, artikel saya layak publikasi. Kabar buruknya, saya harus merevisi beberapa hal yang saya sendiri belum tahu bagaimana cara merevisinya. Belum mempelajari tentang hal itu. Dan setelah saya telisik, ternyata itu adalah hal dasar yang seharusnya dikuasai sebelum melakukan penelitian.

Dan dari sana, ada satu hal buruk yang saya sadari dari diri sendiri

Saya belum bisa berjalan pelan-pelan dan sering melewatkan banyak hal. Padahal hidup bukan arena lari cepat. Saya terlalu terburu-buru mencapai sesuatu padahal, Tuhan saja membuat bumi dan seisinya tidak dalam satu hari, tidak sombong meskipun menciptakan semesta dalam sehari saja sangat mungkin bagi-Nya. Tapi saya, yang masih remahan ini merasa sangat ingin berjalan dengan cepat. Mencapai sesuatu secepat mungkin. Semakin cepat semakin bagus. Tapi seringnya, malah banyak hal tertinggal. 

Saya sudah tidak lagi menyamai langkah kaki orang lain dan memilih langkah yang berbeda. Tapi, saya belum bisa mengontrol langkah kaki saya sendiri. Melangkah terlalu lebar. Melewati banyak rambu dan pijakan. Payah!

Jadi semoga, tahun 2022 bisa berjalan dengan pelan. Semoga saya tidak melewatkan hal-hal minor. Semoga tidak (lagi) terburu-buru mencapai sesuatu. Sebab hidup bukan arena berlari cepat, jadi saya berharap saya bisa memproses semuanya; pelan-pelan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Mungkin ini bukanlah hal yang baru untukmu. Kamu menghela napas, kesal, sebab lagi-lagi malam sudah hampir habis sedangkan kamu masih bertahan, belum mengantuk. Matamu sama sekali belum tertutup, yang ia lakukan hanya berkelana menatapi sudut-sudut kamarmu yang usang, mengikuti gerakan jarum jam di dinding, dan sesekali menatap ke luar. Di luar sangat sepi. Di kamarmu juga sepi. Tidak ada suara lain selain suara di dalam kepalamu sendiri. Hanya di kepalamu yang ramai. Entah ramai karena apa.

Kamu memikirkan tentang masa depan. Tentang bagaimana nanti, bagaimana besok, bagaimana hidupmu di usia dua puluh lima kelak. Tak berapa lama kemudian, kamu memikirkan tentang masa lalu. Mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah kamu perbuat kepada orang lain. Kamu merasa bersalah kepada orang lain. Mempertanyakan apakah kamu sekarang adalah orang yang jahat karena pernah melakukan kesalahan di masa lalu.

Tak berapa lama, ingatan tentang hal-hal konyol dan ceroboh di masa lalu muncul. Kamu ingat bahwa hal-hal itu yang pernah membuatmu merasa malu. Kamu menyesal. Kamu mengutuki diri sendiri karena telah bersikap bodoh. Lalu kamu tertawa. Menertawakan diri sendiri yang sama sekali tidak bisa memisahkan perasaan dan pikirannya sendiri. Kemudian kamu bingung dan bertanya. “Aku kenapa sih?”

Tenang....

Percayalah bahwa kamu tidak sendiri. Tidak hanya kamu yang merasakan hal ini.

Dalam hidup, kita pasti akan melakukan kesalahan. Pasti. Disengaja ataupun tidak, tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Terlepas dari rasa sesal yang kamu rasakan, ketahuilah bahwa hidup terus berjalan. Tidak baik bagimu untuk terus membawa rasa sesal itu. Rasa sesal hanya akan menggerogotimu. Perlahan-lahan langkahmu akan terhenti hanya karena penyesalan. Kamu tidak mau, kan?

Lantas lepaskan semuanya.

Ketika kamu banyak pikiran, perasaanmu naik dan turun, maka berhentilah sejenak. Stop. Pejamkan matamu dan bernapaslah dengan tenang. Sadari bahwa kamu sedang hidup. Kamu sedang bernapas. Apapun yang terjadi, yang perlu dilakukan adalah sadar. Jika sulit bagimu untuk menyadari, maka diamlah. Kesunyian adalah semesta itu sendiri.

Kamu sudah pernah membaca kan bahwa diri kita adalah ketenangan yang stabil? Bebanmu bukanlah kamu. Sadari bahwa beban dan dirimu adalah dua hal yang terpisah. Maka lepaskan.

Menangislah jika perlu. Menjerit, kalau itu maumu. Sesekali meledaklah. Bagi perasaanmu kepada langit-langit kamar, dengan bantal guling di sebelahmu. Dengarkan lagu sedih, jika itu membuatmu lebih lega. Sampaikan pada doa-doa bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Sadari bahwa kamu menangis bukan karena lemah. Melainkan karena kamu sudah terlalu kuat menahan semuanya. Menampung semua beban; sendirian.

Jangan menolak perasaanmu sendiri. Jangan menolak apapun. Terima. Sebab beberapa hal tidak bisa diubah, maka terimalah.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

Setelah tidak denganmu, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang ternyata tidak ikut berakhir meski babak cerita kita telah selesai. Mengkhawatirkanmu misalnya. Merindukanmu. Memikirkanmu. Selalu ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Itu semua adalah hal yang tidak pernah selesai meski kita telah berpisah. Mustahil rasanya untuk menyudahi apa yang sejujurnya—oleh hati—masih ingin dilanjutkan. Mustahil rasanya untuk melupakan apa yang—oleh hati—masih diingat-ingat dengan kuat.

Aku gagal dalam mempertahankan kita, dulu.

Dan sekarang,

aku juga gagal dalam hal melepaskanmu.

Aku pernah mencari-cari alasan dan menghindari semua kemungkinan yang memungkinkan aku bertemu kamu hanya agar bisa membuat diriku tenang. Membuat diriku tidak lagi berharap. Tapi nyatanya, semakin banyak alasan yang kucari untuk berhenti mengharapkanmu, semakin banyak kutemukan alasan untuk bertahan dengan harapan itu.

Aku sadar, bahwa tidak semua harapan berhak untuk hidup. Tidak semua harapan benar untuk diutarakan—dengan buru-buru. Terkadang harapan sudah cukup hanya untuk disimpan—dan dikelangitkan. Sebab menyembuhkan luka tidaklah mudah. Dan harapan yang disampaikan dengan cara yang salah, bisa menjadi penyebab luka yang kembali berdarah-darah.

Dan aku tidak ingin membuatmu terluka—untuk kedua kalinya.

Meskipun aku tetap mencintaimu dan berharap bisa kembali denganmu. Tapi ada batasan yang harus aku ikatkan pada tubuhku sendiri. Ada batasan yang—saat ini—tidak bisa aku lewati. Meski rasa ingin memperjuangkanmu besar adanya, tapi tetap ini harus ada batasnya. Sebab aku belum tentu mampu melewati batasan itu. Batasan yang tanpa kubuat sendiri pun sudah ada padamu. Batasan yang menunjukan bahwa aku dan kamu tidak berada pada satu strata yang sama. Adalah hal yang salah jika aku membuatmu menunggu sampai langkah kaki ini bisa menapak di dasar yang sama dengan tempatmu yang amat jauh.

Sungguh melepaskanmu aku tidak mampu,

Tapi menggapaimu juga aku butuh waktu.

Entah kapan. Mungkin nanti. Pasti,

Tapi tidak sekarang.

Yang sekarang aku lakukan adalah sebisa mungkin tidak membuat jarak dengamu. Sebab rindu tercipta dari jarak. Dan tidak ada rindu yang tidak mendesak temu.

Yang sekarang aku lakukan adalah tidak menahanmu. Sebab melihatmu bisa terbang dengan bebas sungguh lebih baik daripada harus melihatmu tertahan dan tidak nyaman dalam waktu yang entah sampai kapan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sejak awal, sejak pertemuan pertama yang sama sekali tidak kita rencanakan, aku mencintaimu. Aku tidak paham bagaimana semesta bisa membelokkan tubuhku ke kotamu, bertemu kamu, dan mengenalmu dengan baik. Kita adalah kita yang sama-sama terlahir tanpa tahu seperti apa Tuhan merencanakan hidup, tanpa tahu seperti apa garis yang digoreskan untuk kita lewati atau siapa saja orang yang akan kita temui. Dan pertemuan kita, adalah rencana Tuhan yang paling tidak terduga, tapi aku sangat mensyukurinya. Aku  bersyukur dipertemukan denganmu meski pada akhirnya kita hanyalah kita yang sebatas hampir pernah bersama.

Di balik perpisahan kita yang terpaksa, ketahuilah bahwa aku mencintaimu!

Aku selalu menyayangimu. Bahkan dari awal pertama paragraf ini dimulai, sudah kusampaikan bahwa aku mencintaimu. Namun setiap awal memang selalu terasa manis kan? Yang pahit adalah akhirnya. Dan pertemuan kita tidak salah. Perasaan kita adalah benar. Yang salah adalah kita yang tidak bisa saling mempertahankan dengan baik. Tapi sekali lagi, aku bersyukur bertemu denganmu. Walau tidak lama, tapi aku tidak pernah menyesali pertemuan kita.

Aku kalah.

Satu-satunya pemenang dalam hal ini adalah doaku yang selalu memohon kepada Tuhan agar kamu bahagia. Dan mungkin, menurut Tuhan, bukan aku orang yang akan membahagiakanmu. Mungkin, Tuhan punya pendapat yang berbeda tentang aku untukmu. Mungkin Tuhan berpikir bahwa aku tidak cukup mampu untuk membentangkan senyum indah diwajahmu setiap harinya.

Tapi tahukah kamu bahwa alasan-alasan ini adalah alasan yang kubuat sendiri untuk bisa tahan dengan rasa kehilangan? Tahukah kamu dibalik semuanya aku masih merengek di hadapan Tuhan untuk memintamu kembali?

Tidak perlu terlalu cepat. Aku tidak masalah jika harus menunggu beberapa waktu yang lebih lama. Sungguh tidak apa-apa. Perpisahan ini tidak akan ada apa-apaanya jika suatu hari nanti, Tuhan benar-benar mengizinkan kita bertemu kembali. Bukan sebagai dua orang yang asing. Melainkan dua orang yang sama-sama sudah lebih baik. Terutama aku,


yang semoga sudah lebih pantas untukmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

// I'm jealous of the poem you've made

You keep your eyes open at night

Thinkin'

Which word would fits,

Which words were not //


// I'm jealous of the poem you've made

You gave all of your attention

All of your emotions //


// I hate the poem you've made

You skip your lunch. Let your

lips dry. Just to keep it

alive //


// I hate the poem you've made

It contains your favorite name

But it's not mine instead //

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Inti dari diri kita yang sebenarnya adalah ketenangan yang stabil. Dia di dalam sana, tenang dan hening. Hanya saja, terkadang, emosi dan pikiran berhasil membuat jiwa seolah-olah kacau dan berantakan. Pada dasarnya, emosi dan pikiran tidaklah berbeda dengan ombak di laut, bayang-bayang di cermin, awan hitam di langit, dan ampas kopi di dasar cangkir.

Seperti langit, diri kita adalah padang yang luas, kosong, tenang, dan stabil. Emosi dan pikiran adalah awan dan hujan yang hanya menyelimutinya. Langit bisa gelap ataupun terang. Langit menerima segala jenis cuaca. Tapi bukankah semua itu hanya sementara? Jika hujan adalah tangis maka itu hanya sementara. Pun, jika awan cerah adalah bahagia, itu hanya sementara. Cuaca datang dan berlalu begitu saja. Semua emosi dan pikiran hanyalah cuaca yang datang dan pergi, sedangkan diri kita adalah langit yang selalu kembali lapang, tenang, dan stabil

Agak sulit diterima mungkin tapi, diri kita itu tidak jauh berbeda dengan cangkir. Perasaan dan pikiran kita adalah objek yang mengisi cangkir itu. Bisa panas, dingin, atau biasa saja. Bisa manis, pahit, asam, atau tidak berasa. Bisa jernih, pekat, ataupun berampas. Tapi bukankah semua itu hanya sementara? Air dalam cangkir bisa diganti dengan apapun. Dan setelah dicuci, cangkir akan bersih kembali—seperti diri kita.

Diri kita serupa cermin. Dia bisa merefleksikan semua objek tanpa pandang-pilih. Tapi cermin akan kembali bersih setelah objek di depannya tidak ada. Emosi dan pikiran-pikiran adalah objek yang bisa terproyeksikan kapanpun. Kita yang adalah cermin harus menyadari bahwa proyeksi hanya muncul saat objek sedang berada di depannya. Pada akhirnya kita akan memahami bahwa emosi dan pikiran hanyalah sementara. Saat objek itu menghilang—atau dihilangkan, semua akan bersih seperti semula.

Emosi dan pikiran selayaknya ombak yang hanya ada di pinggir lautan. Di tengahnya, laut tetap tenang dan hening. Badai bisa saja datang, petir bisa saja menyambar. Tapi badai dan petir akan pergi beberapa saat kemudian. Sama halnya dengan amarah. Sama halnya dengan gembira. Perubahan fenomena di lautan hanyalah sementara, tapi laut menerima semuanya. Seperti diri kita,

Diri kita siap menampung semuanya,

Menjadi tempat atas segala emosi dan pikiran

Tapi pada akhirnya semua hanya sementara

Pada akhirnya kita adalah ketenangan yang stabil—yang siap menampung emosi dan pikiran (baru) yang lain

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Hidup adalah kanvas yang luas dan tidak terhingga. Kita bebas melukisnya, menggunakan ego dan hasrat yang kita punya. Tapi..., kanvas yang sedang kita lukiskan rencana hidup, adalah air. Merencanakan hidup sama halnya dengan melukis di atas air. Akankah lukisan itu menghasilkan sesuatu yang pasti? Tidak. Apakah mudah? Tidak. Mungkinkah terwujud tanpa hambatan, tanpa gemericik pengganggu, tanpa gelombang yang menghapuskan semua goresan yang telah kita lukis di atasnya? Tidak.

Ya,

Merencanakan hidup adalah melukis di atas air. Tidak akan sesuai rencana. Ada kecerdasan lain—di atas kecerdasan manusia—yang mengatur bagaimana lukisan kita akan terbentuk pada akhirnya. Itu adalah kecerdasan kosmik—aku sering menyebutnya semesta. Semesta tidak pernah membiarkan hidup berjalan selalu sesuai rencana. Tapi ini hal baik

Hidup yang tidak selalu sesuai rencana adalah hal baik. Sebab sering kali, rencana yang kita buat adalah rencana egois. Rencana untuk kepuasan sementara. Atau rencana-rencana yang serakah—dan merusak

Ketika rencana itu gagal, maka berhenti di sini, saat ini. Sadar dan utuh. Perhatikan bahwa semesta sedang bekerja.  Perubahan dalam rencana hadir hanya untuk diamati dan disadari. Pada akhirnya kita harus kembali kepada kanvas kita yang sebenarnya. Ketidakpastian, kecewa, marah mungkin akan hadir tapi pada dasarnya jiwa kita adalah ketenangan yang stabil. Emosi dan harapan hanya gemericik air di atas kanvas kita yang tenang.

Merencanakan hidup adalah melukis di atas air. Setiap gelombang berhenti akibat adanya gelombang lain yang lebih besar—dan berbeda arah. Sama halnya dengan kita. Ketika rencana gagal, maka ada rencana lain—yang lebih besar dan berbeda arah—sedang bekerja untuk kita. Lagi-lagi hanya perlu diamati dan disadari.

Terkadang,

Tidak semua memiliki jalan keluar. Dan jika itu terjadi, ya sudah. Kita harus kembali berhenti di sini, saat ini. Sadar dan utuh. Merencanakan hidup adalah melukis di atas air, bukan batu. Untuknya kita harus siap berubah dan mengalir. Tidaklah mungkin menggunakan hanya satu rencana untuk merencanakan hidup, untuknya kita harus berencana dan siap untuk mengubahnya.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sekarang dengar,

Tak peduli sekeras ataupun sekurang apa pun kamu berjuang, semua sudah diramu oleh Tuhan. Tanganmu tidak akan pernah menang melawan tangan-Nya. Jadi, alih-alih mengkhawatirkan apa yang akan terjadi ke depan, mengapa tidak kau percayakan saja pada yang sudah andal? Ya. Semesta.

Aku tahu, kamu sudah pernah membaca tentang “Semesta, Cita-cita dan Pergeserannya” bukan? Kamu begitu mahir mengartikan semesta dan mengikuti apa maunya ketika itu. Jadi sekarang, mengapa harus mengikuti langkah orang lain, jika bisa mencoba langkah yang berbeda? Mengapa harus menyamakan langkah jika kamu justru lebih pandai dalam menikmatinya?

Jangan pernah lupa bahwa sejatinya, manusia dilahirkan utuh bersama dengan senang dan sedih;

Menang dan kalah,

Luka dan cinta,

Percaya dan kecewa,

Mudah dan sulit,

Lelah dan syukur.

Kamu sudah berjalan di atas jalur yang semestinya. Sudah sesuai dengan rencana Tuhan. Tidak ada yang salah. Kamu dibuat lemah agar saat kamu sudah lebih kuat, kamu tidak congkak dan menindas lainnya. Kamu dibuat kalah agar saat mendapat kemenangan, kamu tidak membusungkan dada melainkan menghargainya. Pun dengan sedih, kamu banyak merasakannya agar nanti, jika suatu hari badai besar hadir di dadamu, kamu sudah terbiasa dan mahir meredamnya. Tuhan begitu baik memberikanmu masa-masa yang sulit, semata-mata untuk menyulut jiwamu yang sebenarnya.

Kamu terus memikirkan tentang “Bagaimana Jika Nanti” padahal Tuhan sudah merencakan banyak hal untukmu, dan rencana-Nya adalah yang paling baik. Lihat lagi ke belakang, setelah masa sulit, bukankah hal sederhana bisa menjadi suatu yang sangat istimewa?

Tenanglah, semesta menaungimu. Dan segeralah dewasa. Ambil langkah yang berbeda: langkah yang bisa kamu nikmati selama perjalanannya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Pukul tiga dini hari, aku terbaring menghadap langit-langit kamar dengan tatapan yang kosong. Lelah. Khawatir. Takut. Bahuku terasa pegal dan berat saat kepalaku memikirkan beban-beban hidup--ah bukan--beban pikiran saja sepertinya. Tapi ternyata, sulit yah, menjadi dewasa. Kemudian aku menarik napas panjang berusaha melonggarkan dada yang semakin sesak dengan rasa ketidakberdayaan.

Lambat laun muncul pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan "bagaimana jika nanti..." silih berganti di lorong-lorong kepala yang tak lagi kosong. Mereka mengacaukanku yang tengah berusaha memejamkan mata menjemput mimpi di alam sana. Dan aku menjadi benar-benar takut--dan payah.

Gemericik hujan di luar seperti menderamatisir suasana. Memperjelas kekhawatiran anak manusia yang masih tidak tahu apa-apa diusianya yang hampir kepala dua. Aku takut dengan hidup, takut dengan keputusan-keputusan besar yang akan kuambil di depan, takut dengan tanggungjawab yang pasti akan kuemban. Aku yang rapuh ini, apakah bisa? Lagi-lagi kepalaku memunculkan pertanyaan dengan awalan "Bagaimana jika nanti...". Sungguh ini adalah beban.

Aku belum tahu jawabannya sekarang. Kepalaku masih riuh dan kacau. Ingin rasanya aku cepat-cepat menyudahi semua ini tapi semesta selalu saja begitu. Saat kuingin berjalan cepat, semesta memintaku berjalan perlahan, merasakan semua perih, luka, dan sakit yang--katanya--akan mendewasakan.

Tapi bisa apa aku dalam semalam?

Ingin rasanya aku membersamai hujan di luar sana. Jatuh dari langit lalu menguap esok harinya tanpa peduli apakah aku akan kembali menjadi awan atau justru diterbangkan angin sampai menghilang. Tapi benarkah itu yang aku mau?

Pagi nanti masih ada mama yang akan tersenyum pada anaknya ini, yang belum bisa mandiri. Siang nanti ada ayah yang minum kopi sambil bercerita tentang harapannya yang belum terpenuhi. Lalu apa yang akan aku tunjukan pada rumput-rumput liar di balik pagar rumah itu jika aku menyerah secepat ini. "Bagaimana jika nanti..." AH!

Kapan ini semua akan selesai?

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Bolehkah jika pada setiap sesi lari pagimu aku datang dan menyapa,
menemanimu duduk sambil beristirahat hingga akhirnya kita melangkahkan kaki 
bersama-sama?

Bolehkah aku menghiburmu kala kamu sedih? Mengubah air matamu menjadi tawa
kemudian dari tawa menjadi cinta?

Bolehkah aku bertanggung jawab atas kebahagiaanmu,
menjadi alasan senyum dan tawamu?

Ketika datang badai di kepalamu,
bolehkah tanganku menjadi satu-satunya hal yang ingin kau genggam,
bolehkah aku menjadi satu-satunya orang yang kau percaya untuk melalui badai bersama-sama?

Seandainya nanti masalah datang menghampiri, 
bolehkah pundakku menanggung semua bebanmu,
menjadi muara dari setiap air mata dan keluh kesahmu?

Jika boleh,
akan kulakukan semua untukmu.
Tak apa menyakitkan. Tak apa melelahkan,
untukmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Belasan tahun sudah habis dengan sendirinya. Habis untuk berlari, tertawa, mengkhayal, menjauh, menghindar, mengejar, menangis, jatuh, berkeluh-kesah, hingga hampir menyerah. Ingin rasanya menegasi diri sendiri: bahwa semesta tidak selalu ramah. Bahwa ada banyak hal yang sudah cukup dibiarkan saja. Tidak usah menyalahkan diri sendiri terus. Tidak perlu membebani diri atas semua yang terjadi di luar kendali.

Satu hari, satu tahun sekali, dan sudah terulang sembilan belas kali. Tapi apa yang berbeda? Aku masihlah manusia dengan topeng berbagai macam rupa. Masih tinggal di dunia dengan khalayak yang berkemampuan pura-pura yang sama. Tidak banyak berubah. Hanya kumis dan jenggot yang mulai menebal mengganggu pemandangan. Juga ada bekas jerawat yang tidak mau hilang meski sudah skincare-an. Sisanya tetap sama. Entah waktu yang berjalan begitu cepat atau aku yang bertumbuh terlalu lambat.

Momen sekali setahun ini pada akhirnya menyadarkan aku bahwa waktu tidak pernah memberikan apapun kecuali kesempatan dan masa lalu. Masa lalu memberi tahu bahwa bertumbuh menjadi dewasa bukan tentang seberapa besar angka yang tertulis di kolom umur lembar identitas. Tapi bertumbuh dewasa adalah tentang memantaskan diri disetiap kesempatan yang ada. Memantaskan diri untuk layak menjadi asli.

Kita sepakat bahwa dunia tidak selalu baik. 

Banyak sapa yang tak bernyawa. 

Ramai kepedulian yang hanya sekadarnya saja. 

Dan kurasa kita juga sepakat bahwa selama ini kita selalu ingin menjadi layak untuk sudut pandang orang lain. Layak di baris-baris cerita mulut orang lain. Kita sibuk membersamai orang lain sampai lupa bahwa jiwa yang sebenarnya juga perlu dibersamai diri sendiri. Kita takut ditinggalkan banyak orang padahal seburuk-buruknya kehilangan adalah kehilangan diri sendiri.

Bertumbuh tidaklah mudah, tapi tidak akan ada bahagia sebelum merasakan penderitaan, bukan? 
Seperti tanaman yang bertumbuh untuk berbunga, sepertu itulah kita yang bertumbuh menjadi dewasa: berusaha menumbuhkan daun, menyirami akar dengan syukur, berfotosintesis dengan doa, kemudian pada akhirnya, bunga akan bermekaran.

***

Kepada semuanya yang sekali lagi berkesempatan membuka lembaran baru, kita pernah sama-sama merisaukan masa depan. Pernah sama-sama menyesali masa lalu. Untuk saat ini, sudah bukan lagi tentang seberapa banyak tahun yang terhitung dalam hidup, melainkan seberapa 'hidup' kita dalam satu tahun yang kita punya.

Selamat ulang tahun, kita
Semoga dimudahkan proses bertumbuhnya, dikabulkan harapan dan impiannya.
aamiin

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

"Apa kabar?"

Entah sudah berapa lama pesan ini tidak mendarat di roomchat whatsapp kita. Hari ini kamu mengirimnya. Tanda tanya yang mengakhiri pesanmu itu, ternyata sangat andal dalam mengacaukan segalanya. Merobohkan dinding yang telah kubangun dengan susah payah. Dinding yang akan kugunakan untuk melindungi hati berhibernasi. Memulai tidur panjangnya. Memulai (lagi) penantian yang melelahkan. Menunggu seseorang baru yang mungkin akan datang membawakan musim semi untukku.

"Bagaimana pacar barumu?"

Tanyamu yang seolah-olah mudah bagimu untuk menemukan seorang pengganti. Tapi tidak denganku. Bagaimana bisa kutemukan pengganti dengan cepat bila bagiku, menemukanmu adalah anugerah. Dijaga olehmu adalah hal yang sangat kusyukuri. Aku selalu berterimakasih karena Tuhan telah mengirimkanmu untuk-ku. Karena kamu memilihku. Membalas perasaanku dengan rasa cinta yang lebih besar daripada cinta yang aku punya.

Bahwa sungguh kamu adalah rumah paling rupawan. Tempat paling nyaman bagiku untuk tinggal.

Tapi sayang, kita adalah kita yang saat ini sudah di ujung kisah. Kamu adalah kamu yang sudah punya kehidupan baru. Dan aku adalah aku yang sedang berjuang agar terbiasa tanpamu.

"Andai kita bisa seperti dulu, ya."

Itu adalah pesan ultimatum yang sayangnya tidak berhasil aku tembakkan kepadamu. Kuruntuki diriku sendiri yang lagi-lagi membiarkan rindu mengalahkan logika. Berpikir jika kita masih bisa kembali menjadi 'kita'. Tentu aku tahu untuk saat ini hal itu mustahil, bukan?

Jika masih boleh kupanggil namamu dengan sebutan sayang, maka ini pesanku untukmu. Pesan yang akan kugunakan untuk menenangkan diri sendiri. Tidak ada maksud apa-apa selain berdamai denganmu dan rasa-rasa yang sampai saat ini masih ada--meski dengan tatanan yang tak lagi sama: berantakan.

"Sayang, biarlah kisah ini berakhir. Biarkan aku dan kamu terbang memandang belahan bumi yang lain. Karena hidupmu bukan hanya tentang aku. Pun begitu bagiku. Jika memang Tuhan menakdirkan kita menjadi sepasang, maka Ia akan diam-diam kembali menyatukan. Tinggal bagaimana kita berdoa kepada-Nya. Sebab meski doaku dan doamu berbeda, meski bukan lagi namaku yang kau sebut di dalamnya, tapi selama doa kita masih ditutup dengan amin yang sama, selama itu pula hatiku akan mengingatmu sebagai sosok yang pernah begitu istimewa."

Kuucapkan terimakasih atas semuanya. Mari bersua pada kisah yang berbeda. Entah sebagai dua manusia yang kembali jatuh cinta, atau dua manusia yang sudah berhasil menemukan cinta lainnya.

Mari bersua, lalu menertawakan kisah lama kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kepada kamu dengan penuh ragu, aku ingin mengatakan sesuatu. Ada perasaan asing yang kini menyerangku. Aku tidak bisa mendefinisikannya. Aku tidak tahu apakah ini perasaan rindu atau hanya perasaan kosong karena belum terbiasa tanpa kamu. Apakah aku merasa kehilangan atau hanya hampa karena sekarang kita sudah berbeda. Dulu aku pikir semua akan melegakkan saat mengetahui kamu bisa kembali menemukan tawamu. Aku pikir aku akan bahagia juga saat melihatmu tertawa bersama teman-temanmu. Aku pikir keputusanku untuk memilih kalah adalah keputusan yang paling tepat.

Tapi ternyata tidak.

Kepada kamu dengan penuh ragu, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku lupa bagaimana caranya melupakan seseorang setelah bertemu denganmu. Aku pikir semua akan terasa mudah saat kita sudah punya kehidupan yang baru. Aku pikir perasaan itu akan pudar seiring dengan berjalannya waktu. Aku pikir orang-orang disekitarku akan mampu membuat bayanganmu hilang.

Tapi nyatanya tidak.

Nyatanya kamu masih selalu ada di sana. Duduk manis dan tersenyum di lorong kepala saat pada tengah malam kucoba pejamkan mata. Nyatanya kamu masih ada di dalam tulisanku. Nyatanya, setiap lirik lagu yang kudengar selalu memutar memori manis tentang kita dulu.

Tapi tetap kita sudah bukan lagi apa-apa, bukan? Sekarang aku harus bisa memandangmu dengan cara yang baru. Melihat bagaimana kamu berusaha lupa, membuat aku tersiksa.

Seandainya aku masih bisa menjagamu dan mempertahankan ‘kita’, seandainya aku masih bisa disampingmu dan membuatmu tertawa, seandainya kamu masih bisa kuperjuangkan, seandainya aku tahu seberapa banyak sakit yang akan kuterima saat merelakan perpisahan, seandainya kutahu seberapa pahitnya menyudahi apa yang belum selesai.

Seandainya, pasti bertahan bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Ternyata membiarkanmu menemukan tawa yang tanpa aku di dalamnya bukanlah apa yang aku inginkan. Ternyata terbang bebas menjauhimu tak mampu kulakukan.

Tapi tetap kita sudah bukan apa-apa bukan? 

Jadi biarlah jika tidak ada kesempatan yang lainnya. Biar menjadi kenangan. Biar aku saja yang kau lupakan. Dan kamu di sini tidak akan hilang. Meski pada akhirnya seseorang yang baru akan datang menggantikan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

Renjana (13) Timelapse (5) Thoughts (3)

Kamu Pembaca yang Ke-

Followers

Popular Posts

  • Salah Apa Aku, Wahai Semesta?
      Malam, pukul dua puluh dua, adalah jadwal kita untuk berbincang tentang banyak hal yang manis dan menyenangkan berdua. Tidakkah kamu meras...
  • Satu-satunya, Segalanya
    Kepada Kamu, seseorang yang telah kujatuhi cinta dengan penuh, percayalah bahwa kamu adalah satu-satunya sosok yang aku mau. Kamu adalah har...
  • HALU: SUATU HARI NANTI
      Hal apa yang lebih menyenangkan daripada menyantap sarapan enak di pagi hari? Hal itu adalah menemanimu di dapur sembari mengalungkan leng...

Blog Archive

  • ▼  2022 (6)
    • ▼  November 2022 (1)
      • HALU: SUATU HARI NANTI
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  June 2022 (1)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  January 2022 (1)
  • ►  2021 (9)
    • ►  December 2021 (3)
    • ►  October 2021 (3)
    • ►  September 2021 (2)
    • ►  January 2021 (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  February 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
Powered by Blogger.

Created with by ThemeXpose | Delivered by Nur Hidayat